Selasa, 24 Juni 2014

Samirana Miftahul Qulub


Ini adalah tahun kedua setelah aku mematrikan statusku sebagai suami dan sekarang sebagai seorang ayah...
dan inipun adalah tahun ke-7 setelah kepergianku melepas diri sebagai seorang Santri...
dan inipun adalah beberapa hari sebelum Romadhan tahun ini...
 
aku tiba2 ingat untuk berkunjung ke sebuah tempat dimana aku tak luput berkunjung kesitu meskipun kadang sejenak pada tiap2 kesempatan di waktu2 dan tahun2 yang berlalu, hanya untuk berharap dan bertabarruk...

Pada sebuah petilasan para Santri yang berharap barokah dan kerida'an, pada sebuah tempat yang menjadi saksi setiap gempita dzikir thullab beroja, berhafidz dan berkhatam...
iya disini, di maqom yang bagiku sangat bermakna "Asta Syaikhona K.H. R. Fadholi Syiraj"...
Setelah sampai pada gerbangnya, hatiku mulai penuh dengan memori dan imaji, membawaku berkelana bersama bunyi engsel pintu gerbang yang sudah tak sama lagi dengan seperti pertama aku sampai disini, bangunannyapun mulai beraroma beda,lebih bergaya binar tak seperti tahun2 dulu... namun ketika aku perlahan-lahan membuka grendel besinya yang agak sulit dibuka, dari jarak yang tak beda pula hatiku masam,hatiku berpadu rindu untuk sesekali aku merasa seperti 12 tahun yang lalu saat pertama kali aku mengenal ini adalah Asta Kyai sepuh, rona berpancar cahaya aku rasakan dari arah sini, arah luar sedikit terpisah seperti kerangkeng sel penjara yang memecah antara aku dan Asta ini, jelas tampak disana yang berbaring adalah waliyullah...aduuhhh aku benar2 rindu bertasbih-tasbih atau bermunjiat disitu,layaknya santri baru yang baru mengenal sosok Sang Guru...
Aku... pelan... pelaan... masuk menuju congkop yang dulu tak sebagus ini, ahh aku lupa... aku belum punya wudu untuk melanjutkan ritual lamaku yaitu bertasbih dan bermunjiat disini, pandanganku tiba2 tertarik pada sebuah pintu baru yang dulu tak ada... aku bertanya ini pintu menuju apa atau kemana??? pertanyaanku terjawab setelah aku geser pintu itu dan membukanya, rupanya pintu ini menuju tempat wudu' terletak sebelah Congkop ini...
Aku langkahkan kaki, rupanya Samirana yang berhembus benar2 membuat aku harus menangis karena sentuhannya aku merasa kembali, aku merasa terbawa lagi pada suasana ini, suasana Ba'da isya' yang biasa aku berkunjug kesini di tahun2 aku sebagai santri... aduuuhhh Allah alangkah aduuuh aku merindukan suasana ini, berlanjut pada gayungan pertamaku mengambil air wudu, Subhanallah aku benar2 merasa kembali pada tahun2 lalu aku disini, aku merasa kembali pada kewajiban2 pagiku untuk Hadhir berjamaah, mengaji, sekolah, musyawarah, atau ketika bergerumun untuk sekedar sama2 mengambil tahapan kenyang isi perut ketika salah satu santri mendapat kiriman...
Aduuuh Suasana... Aduhhh kenangan, aku merindukan Tahun2 itu, aku rindu kenakalanku disini, aku rindu ibadahku disini... sungguh anggun wajah Pesantren dan Barokahnya hingga 15 menit terasa aku kembali pada Bertahun-tahun lalu yang masih jelas tampak aroma dan suasananya..
Pada Saat ungkapanku ini tertulis, nampak semua memori dan kenanganku bersama kalian, sahabat, teman bahkan saudara2 seperjuangan Agama...
jangan pernah lupa berjumpa dan bersungkem pada Tabarruk Syaikhona Kyai Sepuh... ada ketakjuban indah yang akan membawa kita pada sebuah ketenangan batin...

RIFAN KHORIDI
25 Sa'ban 1435

Rabu, 25 September 2013

MELINTAS DUNIA DENGAN DOA Persembahan Untuk Seruling yang bernyanyi


Melintas dunia di tapakan saripati bunga-bunga
Melanglang buana di kepakan sayap-sayap semut yang bersayap
Mendaki kalkulasi bersama dendangan angin dinyanyian taman ini
Menerjangi lautan pasir dijejak-jejak lintah yang mencoba menuju kemerdekaannya
                Kesinilah sang surya
                Kemarilah berpesta
                Ada bunga-bunga sepatu yang berevolus untuk sekejap nostalgia
                Juga burung-burung dara berdansa ala rama dan sinta
Merapatlah sang awan
Sekedar membawaka aku anggur dari sungai bengawan
Supaya tak lelah lagi aku mendendangkan lagu ini
Bersama sukmaku yag mulai goncang
                Sejenak, ternyata aku masih disini di tempat ini
                Setalah khayalanku berkelana berabad-abad lamanya
                Rupanya aku hanya beberapa menit melintasi dunia dengan doa
dan masih duduk di tempat ini bersama seruling yang bernyanyi
Pulanglah surya
Ceritakan pada dunia
Ada aku yang berkelana bersama tembang dan nada
Juga ada romansa mesranya kecupan bulir-bulir kenanga
Pulanglah awan-awan
Dan ku titipkan sekeranjang kenangan
Supaya tak jemu kau berdendang
Dilukisan langit yang mulai berhias bintang
                Pulanglah selamat jalan supaya tak lagi aku kekang kau dalam kelana liarku
                Maaf, maafkanlah aku hanya seorang penggila doa untuk serulingku dan bunyinya



Awal rembulan 13

BINTANG TEMARAM


Cipt: Rivan Kh/biwi amira
Lihatlah langit biru kekasih
Terlintas raut senyummu oh dewi
Disaat kau mulai bercanda bersandar
Dan kau mulai merdu menyanyi

Dengarkan nada bintang rembulan
Jangan meraju dan tetap temaram
Wujudkan bahagia di awan yang indah
Dan lukiskan semua kenangan

            Reff :
            Rerumputan..... (rerumputan)
bergoyang.....(bergoyang)
            Bercumbu sendu....
Berharap ada kamu seiris hasrat kalbu, sayang....
Gugurnya....(gugurnya)
Cempaka.....(oh cempaka)
Temani senja ....
Langkahkan rasa kita sambut suka cerita, sayang ....

Tembang Madura Sebagai Refleksi Budaya yang Hidup Pada Lagu “Pak Kupak Illing”


Oleh : Rifan Khoridi

Madura, sebuah pulau yang oleh kebanyakan orang disebut-sebut pulau berjuta cerita dan legeda. Secara  historis pulau ini adalah pulau dengan folklore yang banyak diceritakan bahkan sampai ditelinga Kerajaan eropa atau dinasti-dinasti di cina, pulau ini pulau dengan beragam budaya dan cerita serta peninggalan-peninggalannya sebagai bukti bahwa masa dan waktunya pernah tercatat di pulau ini, mulai dari penghujung barat sampai penghujung timurnya tak jemu-jemu untuk dikaji dan dipahami.

Setiap sejarah tentu meninggalkan banyak makna dan kaidah, agar peninggalannya tetap dijaga dan dijadikan cermin untuk kehidupan masa depan, misalnya tempat peninggalan, alat memasak, alat bertempur/bela diri, dan tembang, serta syair juga nyanyian.
Dari warisan inilah Generasi kita tetap harus menjaga keutuhan dan eksistensinya sebagai jati diri dan simbol penerus adab, tata cara, norma dan etika nenek moyang yang santun.

kearifan lokal, mungkin istilah ini yang sering digunakan oleh para ahli bahasa untuk mewakili warisan budaya nenek moyang yang tetap dipegang teguh oleh penerusnya.
Orang madura sampai saat ini masih sangat menjaga tradisi, budaya, dan harkat tertinggi yaitu harga diri dan kewibawaan nama, lebih-lebih nama keluarga yang harus ada diatas-segala-galanya meskipun dari situlah kadang orang-orag madura disebut sebagai suku pewaris carok red (Berduel saling membunuh demi mempertahankan harga diri) yang secara budaya bukan hanya madura yang punya kebiasaan seperti ini, dimana-mana dibelahan bumi manapun berkelahi dan bergulat bukan hal baru untuk ditabukan bahkan di awal perkembangan sejarah manusiapun budaya ini sudah ada.

Kembali pada warisan budaya, dimana yang akan dibahas disini adalah warisan budaya yang dipandang positif dan dapat dijaga baik oleh penerus-penerus sejarah saat ini maupun kelak, seperti yang  dipaparkan diatas bahwa salah satu warisan nenek moyang orang madura adalah tembang atau nyanyi-nyanyian, lagu-laguan dan kidung-kidungan. Pada penggalan gubahan kidung dibawah ini yang akan dianalisa baik secara tekstual maupun kontekstual adalah lagu berjudul “Pak-kupak illing”.

Sebelum masuk pada analisa pembahasan makna dan intisari tersiratnya baiknya kita tahu bunyi syairnya :

Pak kupak illing
Illinga sandor ranjih
Bapak entar ngaliling
Nak tambeng tao ngajih
Ngajih bebenah cabbhih
Le ollena sarabhi potton

Pendendangan lagu ini biasanya ditembangkan oleh orang tua pada anaknya. Biasanya lagu ini dinyanyikan pada anak kecil yang baru bisa tepuk tangan atau mengajari tepuk tangan pada anak kecil. Hanya saja yang ingin lebih diperjelas dan dikaji tentang lagu ini adalah intisari maknanya dan mengapa harus berbunyi seperti itu lirik atau syairnya dan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh nenek moyang pada penerusnya juga mengapa pendendangannya dibiasakan untuk anak kecil yang baru bisa belajar tertawa dan bertepuk tangan.



Kita masuk pada syair dan lirik di bait pertama :

Pak kupak illing
Illinga sandor ranjih

Dari penafian gubahan ini yang kita pahami pertama adalah bentuk sajaknya yag berirama ab, ab. Namun pemahaman ini bukan hanya pada gaya sajaknya tapi makna mengapa harus pak kupak illing, tinjauan awal adalah pada arti dari kata itu sendiri yaitu pak kupak = tepuk tangan Dan Illing = adalah istilah untuk menggoda orang lain dengan colekan tangan eg. Ada seseorang yang tangannya terkena kotoran burung, kemudian di-illing-kan pada temanya. Kemudian kata yang kedua adalah illinga sandor ranjih secara bahasa arti dari kalimat ini “illingnya adalah illing sandor (nyanyian/tembang) ranjih (tetap/pasti) namun pada dasarnya arti dari kata-kata ini bukanlah bahasa madura yang umum (sering digunakan) bagi pemakai bahasa madura, karena kata-kata ini adalah kata –kata yang memiliki arti yang mendalam termasuk pada jenis kata atau kalimat sastra, sastra madura biasanya berjenis pada ocak parebhesan, keyasan atau bhengsalan.

Penafsiran dari rampungnya penterjemahan syair itu adalah :
Bertepuk tangan yaitu bersuka cita dengan memberi sambutan canda pada orang lain. Dan candaannya adalah candaan sandor (tembang) yang pasti dan harus membuat orang lain senang.
Secara Budaya, gubahan ini telah mewakili gaya dan penyifatan orang madura, betapa sangat menghargainya mereka pada sambutan tamu/menyambut tamu dan lebih-lebih untuk hal yang berbau tembang dan nada juga tarian, orang-orang madura selalu tidak ingin ketinggalan, orang madura punya kreasi seni dari generasi kegenerasi baik pada seni tari atau seni musiknya yang bukan hanya sekedar bunyi tanpa arti tapi setiap bunyi dan gerakanpun bagi orang madura adalah bahasa untuk disampaikan namun lebih tegasnya dari tembang ini jika diperas lagi intisarinya ternyata hanya tentang sebuah prihal, yaitu tentang menularkan sisi positif yang dimiliki oleh manusia satu pada manusia yang lainnya, memberi kebahagiaan pada saudara dan sanak keluarganya.

Masuk pada gubahan syair yang kedua yaitu :

Bapak entar ngaliling
Nak tambeng tao ngajih

Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, syair ini adalah isi atau jawaban dari sajak ab yang pertama yaitu pak kupak illing, illinga sandor ranjih. Sekali lagi, ini bukan tentang penyelarasan bentuk sajak ab, ab supaya berakhiran sama akan tetapi bait ini memiliki makna dan intisari yang dalam yang harus dikaji kembali oleh generasi madura khususnya dan generasi bangsa indonesia pada umumnya karena pada dasarnya lagu-lagu dan sair-syair daerah adalah kesatuan makna untuk membentuk karakter dan sifat bangsa yang beradap dan beretika karena dimulai dari adab maka terbentuk sebuah peradaban dan dimulai dari etika maka terbentuk karakter bangsa yang kuat dan kokoh, karena jika suatu bangsa yang beradap dengan peradaban yang kuat dan kokoh maka suatu bangsa itu adalah cerminan bangsa masa depan yang akan selau dikenang oleh sejarah.

Kita masuk pada kajian syair isi dari jawaban syair yang pertama yaitu Bapak entar ngaliling yang artinya Bapak Pergi berkelana red. Ngaliling adalah kata kiasan dari orang yang sukanya pergi kemana-mana. Kajian Kontekstual disini yaitu seorang bapak atau kepala keluarga yang pergi keluar utuk mencari nafkah anak dan istri untuk memperjuangkan kelayakan keluarga dan kesejahteraanya, bekerja banting tulang dan berusaha sampai apello koneng (berkeringat kuning) red. Okara keyasan/bentuk majas untuk menggambarkan betapa beratnya pekerjaan itu. Kemudian lanjutan syair setelahnya adalah Nak tambeng tao ngaji, dalam ilmu tata bahasa Arab dikenal dengan istilah Fi’il syarat dan jawab syarat atau dalam teologi Ilmiah kita kenal dengan sebutan Cause and effect relation atau hubungan sebab akibat, syair di bait keempat ini adalah poin yang pembahasannya mengacu pada hasil dari rentetan kalimat sebelumnya yaitu secara arti bahasa Anak tambeng (Anak yang masih dalam buaian) tahu/bisa mengaji, kata mengaji Secara istilah adalah membaca Al-Quran atau kitab-kitab syariah dan hukum-hukum Islam namun kajian bahasa intrinsic of value-nya mengaji seharusnya mengkaji bukan sekedar mengaji atau membaca tanpa makna, mengkaji adalah membaca hal-hal yang absoult, mengkaji sesuatu bukan hanya pada objek yang tertulis atau tersurat tapi semisal jika kembali pada kronologi turunya bahasa pertama dalam Al-Quran Iqra’ dimana Jibril pertama kali menyampaikan wahyu Allah pada Nabi Muhammad, Iqra’ = bacalah, apa yang aka dibaca? sedang jibril tidak membawa teks apa-apa untuk dibaca, Namun ternyata dalam persuasi ini Jibril menyuruh Nabi membaca yaitu membaca apa yang ada pada diri kita, membaca  apa yang ada disamping kita, membaca keadaan yang harus kita solving Dan membaca Alam serta keagungan-keagungan Ciptan Tuhan mulai dari yang hidup sampai yang mati, mulai dari yang bergerak dan diam serta mulai dari yang tampak dan tak tampak.

Anak kecil yang masih dalam buaian dalam artian anak yang belum sampai pada akil balligh-nya saja mampu untuk mengkaji keagungan-keagungan yang anggun ini. Namun dilain sisi tembang ini mengisyaratkan peran bagi orang tua dan anaknya, hubungan yang kental serta kasih sayang yang mendalam oleh orang tua supaya anaknya berilmu dan menjadi cendekia yang beretika, bigitu pula bagi seorang anak, bagaimana ia harus mendalami peran dan kewajibannya yaitu menuntut ilmu dan mengamalkannya, istilah kontemporernya saling menghayati peran dan memaksimalkan apa yang bisa dan seharusnya dikerjakan oleh masing-masing profesi.

            Kemudian hal lain yang ternyata patut untuk dipertahankan dan tetap dipegang teguh oleh generasi penerusnya yaitu nenek moyang orang madura sudah membiasakan mengajarkan generasinya sejak kecil dan menanamkan kearifan ini untuk senantiasa falsafah-falsafah hidupnya menjadi pribadi yang indah dan bermakna bagi sesama dan tanah tumpah darahnya lebih-lebih pada peran dan jasa-jasa orang tua juga doa yang tercurah untuk mereka supaya menjadi sesuatu yang dapat dibanggakan.
 
Dua bait terakhir berlirik :

Ngajih bebena cabbhih
Le ollena sarabhi potton

            Syair terakhir inilah yang akan menjelaskan keseluruhan makna atau poin akhir dari ketegasan intisarinya. Seperti pada analisa bait-bait sebelumnya yaitu sebelum masuk pada pembahasan makna kita harus tahu arti secara bahasa atau translate dari kata-kata pada syair ini, ngajih bebena cabbih = ngaji dibawah pohon cabai, le ollena sarabhi potton = oleh-olehnya (yang didapat) serabi potton (serabi yang dibawahnya gosong.

            Saat ini sudah banyak yang lupa bahwa setelah menjadi orang yang mampu mengkaji atau orang yang sudah berilmu setelah proses panjangnya sebagai seorang anak tambeng mereka malah lupa untuk mengaji dibawah pohon cabai atau menkaji pada pohon cabai, secara majas makna dari pohon cabai sendiri adalah proses dimana pada setiap cabai itu tidak semuanya merah pada waktu yang bersamaan, mereka melalui proses-proses panjang untuk menuju merahnya meskipun pada hakekatnya sifat cabai itu pedas baik yang masih hijau ataupun yang sudah memerah, namun bukan tentang mebudidaya cabai yang seharusnya dikaji tapi tentang makna warnanya merah dan hijau inilah yaitu bahwa manusia harus tahu Kennengnah kennengi lakona lakone = tempatnya ditempati dan pekerjaanya dikerjakan yaitu cabai yang masih hijau tingat kepedasanya sekian dan cabai yang sudah mulai memerah tingkat kepedasannyapun mulau bertambah juga cabai yang sudah sempurna dengan warna merah tua itu yang paling pedas dari pada yang lain, ini tentang sadar diri sadar refrensi bahwa manusi tidaklah mampu memenuhi setiap bingkai profesi, artinya yang mampu dibidang bisnis berbisnislah, yang mampu dibidang politik berpolitiklah yang sehat, dan yang mampu dibidang agama ajarilah manusia bagaimana menjadi manusia sejati manusia yang tertata akhlak dan ibadahnya.

            Makna lain dari pohon cabai yaitu tentang eksistensi atau jatidiri, misalnya bagaimana bangsa Indonesia seharusnya menjadi cabai, dibebrapa kesempatan kadang kita pernah mendengan istilah kecil-kecil cabe rawit = biarpun kecil tapi menyengat  bangsa Indonesia itu adalah bangsa yang besar bangsa yang melimpah sekali kekayaan alamnya, bangsa yang punya kekayaan budaya dan bahasa yang beragam namun sayang bangsa Indonesia tidak menjadi bangsa yang cabai, bangsa indonesia tidak dapat menampakkan kekuatannya karena nilai-nilai persatuan sudah mulai ditinggalakan, makna kesatuan Indonesia sudah tak lagi indah, kaum sparatis dimana-mana, mempertahankan kebenaran masing-masing kelompok menjadi acuan utama, kiblat bangsa kita sudah bukan lagi agama dan pancasila tapi kepentingan masing-masing yaitu egosme dan kekuasan yang bukan bertujuan untuk kemakmuran bangsa tapi untuk kepentingan diri sendiri. Inilah kenapa bangsa kita tidak mampu mengkaji kepribadiannya sendiri, kepribadian bangsa kita diaplikasikan negara lain misalnya jepang, selandia baru, bahkan diambil negara-negara tetengga sesama asia tenggaranya yaitu kecil-kecil cabai rawit, lihat bagaimana jepang mampu mendongkrak pasar ekonominya, mengembagkan berbagai produk tehonogi dan kendaraannya bahkan buah-buahanpun jepang mampu mengekspor sampai kepasar asia tengah yang pada dasarnya jepang hanya berbanding 10% dari total kekayaan dan kesuburan tanah Indonesia, jelas hal ini karena jepang kecil-kecil mereka mamapu menjadi anak tambeng yang berkualitas cabai. Namun sayang bangsa kita belum sampai pada fase yang menciptakan generasi anak bangsa yang berkepribadian seorang anak tambeng yang beretika seperti pada tembang itu  tapi lebih ingin menjadi anak tambang yang hanya menjadi kuli tambang di negara sendiri dan hanya tahu menambang tanpa bisa mengolahnya sendiri menjadi anak tambang yang menjual harga diri pada investor asing yang hanya bisa merugikan negara secara ekonomi dan membununuh bangsa secara perlahan yang pada dasarnya Indonesialah pelopornya dan menjadi jati diri anak tambeng itu sendiri yang menempatkan posisi pada porsinya dan menggunakan kemampuannya untuk memuaskan bangsa dengan pemikran-pemikiran untuk memajukan Negara serta selau menjadi anak tambeng yang berproses menuju cabai yang pedas .
           
            Kemudian jika nantiya anak tambeng itu sudah mampu mengkaji tentang hidup dan tentang jati diri serta pembenahan kekurangannya maka le ollena sarabhi potton artinya hal yang diperoleh adalah Sarabhi red. Kue yang terbuat dari tepung dan parutan kelapa serta cara memasaknya disangrai. Detelusuri secara konteks budaya hal ini lebih dekat pada kuliner tradisional namun sejatinya kue serabi ini sering digunakan pada setiap ritual-ritual sakral di madura misalnya jika anak kecil khatam Al-quran pasti salah satu kuenya harus ada serabi atau pada acara petik laut kue serabi selau di ikut sertakan juga, untuk kepercayaan madura kuno barang siapa menjatuhkan Al-quran secara sengaja maka selamatannya adalah kue serabi setinggi badannya.

meskipun hal ini terlalu tradisional dan primitif untuk dilogikakan  pada pola pikir masyarakat modern atau dianggap teralu omong kosong namun hal ini adalah budaya yang patut untuk tetap diindahkan karena masyarakat madura di jaman sulit (jaman pasca kemerdekaan atau jauh sebelum itu, madura benar-benar masyarakat melarat bahkan untuk dimakan saja orang-orang di jaman itu harus mencari daun pe-apeh/di laut atau memakan pohon pisang yang dicaincang lalu digodok sampai dapat dikonsumsi seperti layaknya sayuran berhubung semua persediaan pangan baik yang masih di tanam maupun yang sudah di panen terserang hama tikus) benar-benar mengangap makanan adalah hal yang harus dihemat misalnya pada tahun 60-an saja masih berlaku larangan anak kecil makan ikan laut kalau tidak dimakan dengan nasi karena satu ikanpun itu untuk dimakan beramai-ramai atau makan kelapa yang belum diolah apa-apa takut kena penyakit cacing kremmi, ini untuk masyarak modern adalah hal yang bullshit sedang para ahli kesehatanpun menyarankan untuk mengkonsumsi makanan berprotein dan bergizi, namun kondisi masyarakat pada waktu itu harus benar-benar menghemat makanan sehingga anak kecil dilarang memakan hal yang dianggap makanan sekunder atau tresier padahal sebenarnya hal ini untuk mengantisipasi anak-anak punya kebiasaan seperti itu.

Sedangkan Kue serabi adalah makanan yang memiliki nilai sakral di mata masyarakat madura. misalnya di akhir-akhir bulan ramadhan ada tanggal yang umumnya masyarakat madura membuat kue ini atau di awal bulan ‘asyura serabipun dipakai juga untuk arebbe (selamatan, biasanya diantarkan pada tokoh-tokoh atau pemuka agama di tempat itu) yang hal ini tidak lain bahwa serabi di mata masyarakat madura adalah kue yag harus tetap di lestarikan dan dijaga keutuhan budayanya. Dalam konteks ini masyarakat modernlah yang harus mengkaji mangapa anak tambeng yang didapat setelah bisa mengkaji oleh-olehnya adalah kue serabi seperti pada lirik tembang ini. Dalam tinjauan makna dan kajian ilmiahnya kue serabi yang diartikan secara majas adalah kue yang selalu dibutuhkan, dijaga, diindahkan, atau bahkan di sakralkan maka anak tambeng itulah yang akan dijadikan kue serabi oleh masarakat dan akan dipandang untuk bermanfaat bagi bangsa, tanah air dan agama. Anak tambeng yang bukan sekedar mangaji tapi mengkaji, anak tambeng yang berkepribadian cabai yaitu anak bangsa yang berkualitas bukan hanya yang pandai berkata-kata dan berkonsep namun cerdas dalam menghayati peran dan bertindak, juga anak tambeng yang sejati yang bisa menjadi diri sendiri yang menemukan jati dirinya yaitu anak bangsa, anak pertiwi yang akan menjadi kebanggaan bangsa dan negara lebih-lebih agama.

Dari itu Cermin bangsa ini seharusnya mengindahkan apa yang sudah ada dan diramu menjadi  tembang-tembang nasehat untuk menjadi bekal berbudaya dan beretika juga  mampu menciptakan peradaban yang lebih maju dengan berkeprbadian menjadi diri sendiri dengan karakter bangsa yang berbudi luhur, religius dan disiplin.

Maka jika telah sampai pada prinsip dan target inilah anak tambeng Indonesia akan mampu menjadi pribadi yang diharapkan atau pribadi yang disakralkan oleh bangsa dan Negara yaitu pribadi penting dan dibutuhkan oleh rakyat kita dan Ibu pertiwi seluruh Nusantara kerena anak bangsa seharusnya  bukan hanya dididik dalam kecakapan berilmu pengetahuan yang tinggi tetapi moral dan etika harus jadi sandaran utama dan prioritas pertama dalam membentuk kepribadian yang anggun dan bijaksana. Sebab besar suatu bangsa dapat ditanam dan dimulai dari kepribadian yang etis dan religiuis.

kembali pada suvei yang ternyata benar, tidak sampainya proses perkembangan peradaban bangsa kita dari negara berkembang menuju negara maju disebabkan oleh tangan-tangan anak bangsa yang hanya mampu berfikir dan berencana tanpa itikad dan etika yang luhur dan murni yaitu menciptakan suatu bangsa yang berfalsafah pada kajian mencerdaskan bangsa dengan ilmu pengetahuan yang seharusnya falsafah utama yang dipegang oleh bangsa ini adalah membentuk karekter bangsa dengan etika dan agama ini akan terbukti jika anak bangsa yang duduk di panggung politik mulai dari legislatif, yudikatif hingga ekskutif dibentuk dari karakter anak tambeng yang mampu mengkaji pada keadaan dan nasib bangsa ini juga anak tambeng yang sudah menkaji dibawah pohon cabai yaitu anak bangsa yang sudut pandang fikirannya lebih tertekan pada etika dan agama, maka tidak akan ada ceritanya bangsa kita memiki istilah yang sudah dianggapa biasa seperti korupsi, money loundring, atau suap advokat sampai kasus century yang ternyata dalangnya adalah badan ekskutif, tidak akan ada sebab bangsa yang sudah mendahulukan akhlak dan etika dari pada ilmu pengetahuan adalah bangsa yang akan menjaga kesuciannya dari hal-hal yang berbau negatif dan merugikan orang lain.

Dan pada akhirnya semua hal yang dibicarakan dan dibahas mulai dari keteguhan menjaga keutuhan bangsa dan negara hingga menciptaka rasa percaya diri sebagi wujud suatu bangsa yang mandiri dan besar dengan mengutamakan nilai-nilai religuitas dan percaya diri, maka lagu pak kupak illing ini layak untuk dijadikan pedoman bangsa untuk menuju negara yang orang-orang sebut Gemah ripah loh djinawi atau Baldatun Toyyibatun Wa Robbun Ghafuur itu tidak hanya ada pada bahasa istilah namun ia akan tercitra dari dalam pribadi setiap individu bangsa ini, bangsa yang seharusnya menjadi anak tambeng seutuhnya agar cita-cita dan harapan Ibu pertiwi dapat benar-benar terealisasi

Kamis, 06 September 2012

KERUDUNG SYIRIA MU

Balutan kerudungmu, buat rasa yg pernah mati hidup lagi.. Balutan kerudungmu, buat duka yg pernah ada sirna kembali.. Balutan kerudungmu, buat setiap nada hanya puji2... Dan balutan kerudungmu, hampir setiap bagianku adalah glory.. Sungguh karena balutan kerudung syiria mu yg indah, aku ingin ucapkan "kan kupinang kau dengan bismillah"...

Kamis, 15 Desember 2011

RENUNGAN [IP]

Intro : G > C D B G
C D G
G C
Semua ini Dari-Nya
D G D
Dan kembali Pada-Nya

G C
Jangan ragukan hatimu
D G
Dengan Keagungan-Nya

Interlude : C D B G
C D G
G C
Tetap luruskan jalanmu
D G D
Mantapkan hatimu
G C
Sempurnakanlah batinmu
D G D
Menuju kepada-Nya

Reff :
G C
Tatap langit biru
D G D
Kau tahu kebesaran Tuhan
G C
Coba tuk Renungi
D G
Menjadi insan yang berarti

Break : D C B C D C G 2X

G C
Tetap luruskan jalanmu
D G D
Mantapkan hatimu
G C
Sempurnakanlah batinmu
D G D
Menuju kepada-Nya

Kembali Ke Reff

Melodi : C D B G C D G
D >> B G D >> G Kembali ke Reff